“Jika kelak kau punya waktu luang. Kukirimkan kau sekotak kenangan. Juga beberapa pertanyaan ringan. Apa kabar kau disana?" - Boy Chandra
Ketika semua orang tersenyum, aku tak bisa. Aku
perlu waktu untuk mencerna semua ini. Menatap sembarang arah dengan tatapan
kosong, berharap kamu ada di hadapanku. Orang–orang itu menyemangatiku,
mereka berbusana putih bersih. Tapi aku tak perlu omong kosong itu.
Aku mengenal mereka dengan baik, ayah, ibu, dan
juga kakakmu. Kita terbiasa bercengkrama. Ibumu senang sekali ketika bertemu
denganku, katanya aku sudah dianggap sebagai anak perempuannya. Dan kau
merengek, pura-pura cemburu dengan sikap ibumu kepadaku.
Sosokmu yang tinggi, bola mata yang indah jika
terkena pantulan mentari, hidung perosotan yang sering ku ejek. Akan selalu
aku ingat. Aku bahkan tak menyangka pria setampan dan sepintar kamu, bisa jatuh
hati kepada gadis biasa seperti aku.
Kamu itu murah senyum. Sejengkel apapun dirimu
terhadapku, kamu akan tetap tersenyum sambil mengacak rambutku. Bahkan ketika
kamu merasa sakit, kamu juga masih tersenyum. Kamu bilang, dengan tersenyum
rasa sakit itu akan sirna. Bodoh sekali aku tidak bisa menangkap kode itu.
Pikirku, semua akan kembali normal. Kebahagiaan,
haru biru, dan semua yang semesta kehendaki. Nyatanya semua keliru, aku tak
bermimpi . Aku bahkan lupa bagaimana
cara menangis dan tersenyum. Kekalutan mendominasi otak.
Hidupku kosong tak lengkap, rumpang ternyata. Ada
spasi dalam hidupku. Aku dipaksa untuk berhenti sejenak. Pagiku terasa abu, malam terasa kelam. Cahaya mentari tak mampu lagi membakar semangatku.
Yang aku tahu, waktu tak pernah memihak kita.
Genggamanku terlampau erat, aku tak mau melepas kekasih hatiku. Aku kalah, maaf.
Setidaknya aku pernah menggenggam dengan erat, lalu terlepas.
Dress kuning yang aku kenakan merupakan pemberianmu
di hari ulang tahunku. Dan aku tahu, kuning merupakan warna favorite kamu,
makanya aku mengenakan ini.
Wajahmu masih sama seperti dulu, menenangkan.
Bahkan kamu terlihat jauh lebih tampan dengan jas yang kau kenakan. Aku terlalu
lama menatapmu, hingga tak sadar pipiku basah. Aku bahagia sayang, aku
bahagia karena kamu kekasihku. Kamu sekarang bisa tersenyum sepuasnya tanpa
merasakan sakit.

Bagus banget
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
Deletengena ke hati bgt tulisannya🥺
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
Deletengena bgtt :(
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteKOK MENINGGAL ? plot twist banget ya
ReplyDeletesama kayak hidup , banyak plot twistnya
DeleteKerennn
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteBaguss tulisannyaa
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteAve kapan bikin buku :(
ReplyDeletedoain yaa
Deleteaku suka illustrasinya di cover :)
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteNyentuh bgt :(
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
Deletehow's deep this words :") loved it
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
Deletengena bgt tulisannya🥺
ReplyDeleteMengandung bawang bgt:( tpii kereeen
ReplyDeleteAduh duh keren bgt ish
ReplyDeleteHmm keren si
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteHmm keren si
ReplyDeleteHmm keren si
ReplyDeleteajarin nulis kayak gitu kak
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung
DeleteDeep banget tulisannyaa duhhh
ReplyDeleteKu kira nadin
ReplyDeleteinspirasi judulnya dari nadin
DeleteSuka banget sama tulisannyaaa!
ReplyDeleteterima kasih telah berkunjung
DeleteHaaa aveee merinding banget 😭😭😭 ini cerita pribadi apa gimana deh bingung
ReplyDeleteAlhamdulilah pribadi
DeleteTulisannya ngena bgt mantep
ReplyDeleteterima kasih telah berkunjung
DeleteAveeee! Keren bgtttt tulisannya
ReplyDeleteterima kasih telah berkunjung
Deletemenarik ceritanya
ReplyDeleteterima kasih telah berkunjung
Delete"kamu dilahirkan untuk memaknai kematian" ya ampun, ini kata-katanya ngena banget :( good job penulis!
ReplyDeleteterima kasih telah berkunjung
Delete