"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikan tiada." – Sapardi Djoko Damono.
Kehangatan mentari menyelimuti diriku, yang tengah kedinginan dan merasa sepi. Entah
kapan sang mentari mulai hadir, dan
menyapa kembali diriku. Sosoknya yang hangat dan menenangkan,semakin
membuat candu dalam diriku bergejolak.
Kehidupanku yang gelap tak berwarna,tergantikan
oleh definisi warna yang paling indah, yaitu kamu. Kamu selalu memeluk
tubuhku dengan erat ketika aku merasa kedinginan. Kamu juga yang menarik
diriku dari sisi kelam kehidupan. Ikatan tali yang semulanya mengikat kencang
tubuhku mulai mengendur. Rasa sesak yang aku alami di percintaan sebelumnya
mulai menghilang. Inikah cinta yang aku harapkan?
Terlihat gurat bahagia di wajahmu ketika berbincang
denganku. Bola matamu yang selalu berbinar dan mengarah kepadaku,membuat
ketenangan dalam diriku semakin terdifinisi. Harum tubuhmu membuatku terpikat. Aku jatuh cinta kepadamu.
Ketika aku bersedih, lentikkan jarimu menyapu air
mata yang membasahi pipiku. Tingkah konyolmu membuatku tertawa. Aku merasa
menjadi wanita yang sangat beruntung.
Berjumpa dan memadu kasih denganmu merupakan keajaiban. Bersamamu,
membuat aku lupa akan jahatnya dunia kepadaku. Masalah yang aku hadapi sirna
begitu saja ketika aku bersamamu. Aku semakin sadar, bahwa kamu adalah pulangku yang paling
sempurna.
Kacau, bagaimana bisa aku menjadi candu. Tak
melihat batang hidungmu sebentar saja, membuatku sengsara menahan rindu. Ketika rindu datang menyapa,aku hanya bisa membayangkan lekuk indah wajahmu dan harum tubuhmu yang
menenangkan.
Jika biasanya seorang pecandu harus direhabilitasi
agar sembuh, aku tak ingin sembuh. Aku masih ingin merasakan candu yang nikmat. Tentu saja bukan candu barang haram, melainkan candu kepadamu.


















