“Aku ingin kau tahu, ada rindu yang ku titipkan
pada bulir hujan di kaca jendela kamarmu. Sayangnya ternyata jendelamu tak
berkaca, jadilah rinduku gagal menyapa.” – Rohmatikal Maskur
Hujan itu menyesakkan. Rinduku tak tersampaikan,
pikirku tak terelakkan. Rinduku menetes begitu derasnya seperti bulir hujan
yang jatuh membasahi bumi. Logika dan hati tidak sejalan. Pada permasalahan
ini hatilah yang dibutakan dan logika di kusutkan. Lantas siapa yang patut aku salahkan?
Hujan turun dengan deras, mewakili perasaan yang
aku alami. Aku duduk, menatap nanar hujan dari balik jendela dan memikirkan hubungan kita. Tak terlintas di
benakku untuk meninggalkan kamu yang selalu menyinari duniaku. Anganku terbang
ke awan, rinduku semakin menawan.
Terlalu mudah jatuh hati pada kelembutan lelaki,
itulah kesalahan terbesar yang aku dan semua perempuan lakukan. Hati yang
patah, senyum yang hilang, dan jiwa yang mati, berkecamuk dalam diriku.
Akankah ini berakhir? Aku mulai mengerjapkan mata
dan mencoba membuat tubuh kecilku beristirahat. Aku tahu tubuh dan perasaaan
butuh waktu sejenak sambil memproses segala kejadian yang menimpaku. Aku
berharap ketika aku terbangun segala permasalahan tersebut hilang dari hidupku.
Mentari mulai memunculkan sinarnya dan hujan menemaninya. Jujur aku tak siap
untuk terbangun dengan masalah yang masih ada. Ketika aku mengecek ponsel yang
berada di meja samping tempat tidurku.
Rasa lesuhlah yang muncul, karena kamu sama sekali tak mengabari.
Ragamu menghilang bersama anganku. Dulu kamu pernah
berjanji akan selalu ada dan menemaniku. Kamu juga berjanji tidak akan membuat
air mata ini menetes karena kamu. Bodohnya, aku percaya omong kosong itu.
Bahkan aku baru menyadari kita tak memiliki hubungan, kita tidak terikat. Apa
karena itu kamu dengan mudahnya menghilang dari hidupku?
Kamu yang meminta untuk tidak menggunakan status
dalam hubungan ini. Kamu bilang, status tidak menjamin apa-apa. Kamu
pengecut dan aku bodoh. Justru hubungan tanpa status yang tidak bisa menjamin.
Pria dengan tatapan sejuk, bola mata yang indah, alis yang tersusun rapi, sudah pergi entah kemana. Aku hanya bisa menatapnya dari foto, dan menciumnya dalam mimpi. Kita hanyalah dua insan yang terjebak dalam kisah yang salah. Izinkan aku untuk membenci hujan, karena dia bukan pelipur lara melainkan pembawa lara.
- Tulisan sudah dimuat di laman berita lima
Dialog Senja..

Tulisan ringan dengan bahasa yang dalam , cocok menemani saya minum kopi
ReplyDeleteMengingat kan ku dengan si dia
ReplyDeleteuwuuu:'3 jadi baper:"
ReplyDeleteTulisannya bagus, gampang buat dipahami walau susah untuk di tulis pastinya, kerenn lanjutin terus
ReplyDeletewaaa alur cerita yang simple dan mudah dimengerti namun membuatku terbawa suasana dan terkesan saat membacanya..
ReplyDeleteDuhh jd kebawa suasana
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMungkin cara kamu dan orang lain melihat hujan berbeda . Tapi tulisannya bagus , penuh dengan emosi .
ReplyDeleteBagus dan mendalam, apalagi cocok bgt kalo dibaca pas ujan
ReplyDeleteEmang paling pas udah. Ujan sambil bikin tulisan. Sebuah perpaduan yang keren, penuh emosi di dalamnya. Lanjutkan!
ReplyDeleteSambil dengerin lagu enak bet ini bacanya
ReplyDeleteAaaaa kebawa suasana mendalam sekali
ReplyDeletewaw jadi baper
ReplyDeletekeren bangett
ReplyDeletekeren veee!!!!
ReplyDeletePenggambaran lelaki sangat apik. Makasih sudah membuat pagi saya diliputi galau
ReplyDeleteHujannya bikin banjir gak?
ReplyDeleteTulisannya penuh emosi dan keresahan, nyampe banget ke pembaca!
ReplyDeletejadi mo nangiss
ReplyDeleteKeren avee
ReplyDeletekerennnn👍
ReplyDeleteMo nangis :'''
ReplyDeleteTulisannya ngebawa suasana banget. Untung lagi ga hujan kalo iya pasti makin mellow
ReplyDeleteHarus belajar sadar akan emosi sih. Susah emang, tapi life changing bgt. Kebawa emosi itu lumrah tapi jangan sampe terpengaruh sama emosi itu.
ReplyDelete“saat ini w jatuh cinta, dari yang udah-udah, w pasti bucin atau melakukan sesuatu yang bodoh. Kali ini harus aware & jangan merugikan diri sendiri mengatasnamakan emosi yg akan berlalu.”
Uwuuuu sedih
ReplyDeleteSemangat!!! Ada jutaan orang baik dan hal baik yg menunggu kamu di depan. Bersedihlah dengan puas, lalu bangkit dan tunjukan kalau kamu kuat dan bisa melalui semuanya. Jangan sesali kesalahan yg lalu, jadikanlah pelajaran dan batu loncatan untuk menjadikanmu seseorang yg lebih tangguh. It's okay to be broke. Karena semua orang berhak patah hati☺️❤️
ReplyDeletesemoga kamu menemukan pelipur lara yang sesungguhnya. tetap percaya :)
ReplyDelete